Langsung ke konten utama

Hati-Hati dalam Memilih Pasangan Hidup karena akan Menentukan Kebahagiaan Anda Kelak


  • Tidak setiap wanita memiliki kemampuan untuk menentukan sikap dalam memilih siapa yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Hingga tibalah saatnya, suatu hari nanti, penyesalan demi penyesalan yang dirasakan sudah tidak ada gunanya lagi, karena kesalahan yang diperbuat ketika memilih pasangan hidup adalah pilihan yang harus diterima dengan lapang dada, sebagai bentuk konsekuensi atas pilihan yang telah dibuat.
    Memang benar tak ada seorang pun yang dapat meramal apa yang akan terjadi di masa depan, tak ada seorang pun yang dapat memahami hati serta perasaan seseorang. Hal inilah yang harus menjadi perhatian utama bagi para wanita yang telah siap untuk memasuki kehidupan pernikahan, hendaknya mereka berhati-hati dalam memilih calon pendamping hidup, sehingga rasa sesal dikemudian hari tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menghinggapi kehidupan Anda.
    Berikut ini ada beberapa poin yang setiap wanita perlu memperhatikan, supaya kehidupan pernikahan mereka kelak bersama suaminya jauh dari rasa penyesalan, diantaranya:
  • 1. Berhati-hati di masa remaja

    Masa remaja bagi kebanyakan orang dianggap sebagai masa paling bahagia dalam kehidupan seseorang, masa remaja adalah masa yang unik, di mana seseorang belum memiliki banyak tanggung jawab, sehingga di masa inilah setiap remaja putri hendaknya mampu memanfaatkan kesempatan yang ada tersebut dengan sebaik mungkin. Karena masa remaja adalah masa di mana jati diri seseorang sedang dibentuk, hal-hal yang berkaitan dengan percintaan serta romantisme hendaknya tidak sampai membutakan akal serta pikiran sehat Anda. Perbanyaklah pengalaman Anda di masa ini, indahkan nasihat dari orang tua Anda, berpacaranlah secara sehat, pilihlah dengan hati-hati teman lawan jenis Anda yang bersamanya Anda akan dihormati, didukung serta dikasihi secara tulus.
  • 2. Tidak terjebak dalam masa pubertas

    Berhati-hatilah ketika Anda memasuki masa pubertas, pubertas sendiri adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju kekedewasaan, di mana perubahan fisik serta hormonal sedang terjadi secara masif. Bagi para wanita khususnya, organ-organ reproduksi Anda pada saat ini telah berkembang dengan sempurna dan siap untuk dibuahi dengan tanda terjadinya menstruasi. Anda akan mulai tertarik dengan lawan jenis. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih serta bergaul dengan teman-teman pria Anda, pilihlah mereka secara hati-hati dan yang hanya memiliki standar tinggi saja, hindari bergaul dengan teman-teman yang tidak memiliki kontrol sosial, sehingga Anda akan dapat melewati masa pubertas ini dengan selamat.
  • 3. Mendengarkan nasihat orang tua

    Memang Anda adalah yang paling berhak menentukan siapa yang akan menjadi pendamping Anda nanti, tapi mengindahkan nasihat dari orang tua, apa salahnya? Ketika Anda memperkenalkan teman pria Anda, mintalah pendapat dari orang tua Anda untuk menilainya, karena pernikahan yang akan Anda jalani bersama pasangan nanti bukanlah bertujuan untuk mempersatukan Anda berdua saja, tetapi juga akan mempersatukan dua keluarga yang memiliki perbedaan tradisi serta kebiasaan.
  • 4. Berpacaran secara sehat

    Masa pacaran adalah masa perkenalan Anda dengan calon pendamping Anda, dimasa ini Anda belumlah menjadi milik dia sepenuhnya, oleh karena itu segala bentuk ajakan darinya yang mengarah ke hubungan badan, hendaknya bisa Anda tolak dengan tegas. Bila pacar Anda memaksa Anda untuk melakukannya, di sini Anda harus mulai bisa menilai kepribadiannya. Jangan takut bila dia mengancam akan memutus Anda, Anda harus memiliki keteguhan hati bahwa tubuh Anda adalah suci dan tidak boleh seorang pun yang tidak layak berhak menyentuhnya.
  • 5. Mengenal secara mendalam pribadinya

    Berkawanlah dengan sebanyak mungkin orang, semakin banyak kawan yang Anda miliki, maka Anda akan bisa melihat secara dewasa bahwa masing-masing orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Tetapkanlah kepribadian pria yang seperti apa yang Anda kehendaki dan ujilah mereka yang berusaha mendekati Anda. Dengan cara demikian, ketika Anda telah menemukan sosok yang paling Anda idamkan, maka niscaya Anda tidak akan pernah merasakan sesal di dalam hati Anda karena telah menerima dia sebagai suami Anda.
    Persoalan memilih calon pasangan hidup adalah masalah pribadi masing-masing orang, tidak boleh ada pemaksaan dari pihak siapapun juga termasuk orang tua. Namun, konsekuensi yang akan dihadapi bila ternyata salah dalam memilih pasangan hidup, dampak yang ada tidak hanya akan dirasakan oleh si pasangan tetapi juga oleh anak-anak dan seluruh anggota keluarga dari kedua belah pihak. Oleh karena itu, cermat serta berhati-hatilah dalam memilih calon pasangan hidup Anda, khususnya bagi para wanita, jangan sampai Anda menyesalinya di kemudian hari dan mengganggap dalam diri Anda bahwa semua pria sama saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Cara Agar Anak Tidak Terlalu Dekat dengan Pengasuhnya

Sebagai orang tua yang kedua-duanya bekerja, peran pembantu rumah tangga atau babysitter sangatlah diperlukan, karena dengan adanya bantuan dari mereka segala urusan dalam rumah tangga dapat terasa lebih ringan. Namun sesungguhnya orang tua tidak boleh terlena akan hal ini, ada hal yang sebenarnya tidak boleh tergantikan oleh orang lain yaitu pengasuhan pada buah hati Anda. Orang tua boleh saja menyerahkan tugas pengasuhan anaknya kepada orang lain, namun usahakan agar tugas utama pengasuhan kepada anak tersebut tetap Anda miliki, jangan biarkan anak Anda nantinya justru lebih nyaman berada dekat dengan pengasuhnya daripada kepada Anda sendiri sebagai orang tuanya. Lalu apa yang harus Anda lakukan, simaklah tips dengan harapan dapat membantu Anda agar bisa lebih bersemangat meluangkan waktu Anda untuk buah hati Anda. 1. Mempekerjakan pengasuh sementara Anda dan pasangan dapat mempekerjakan seseorang yang dapat Anda percayai untuk menjaga buah hati Anda hanya selama Anda berdua...

8 alasan mengapa seseorang menunda untuk memiliki momongan

Anak adalah pusaka keluarga, seorang anak dalam sebuah keluarga dapat merupakan berkat bagi keluarga tersebut. Namun, ketika ada banyak orang berusaha ingin segera memiliki momongan, beberapa justru menunda dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal. Sebut saja Robi, sahabat saya sejak masih duduk di bangku SMA. Robi dan istri saat ini telah menikah sekitar 3 tahun, tetapi semenjak menikah - hingga sekarang - mereka berusaha menunda memiliki momongan. Tidak sedikit keluarga dan sahabat berusaha mengklarifikasi keputusan mereka tersebut dan lagi-lagi jawaban yang mereka utarakan tetaplah sama, "Nanti!". Di sekitar kita ada banyak orang memiliki pola pikir yang sama dengan sahabat saya Robi, bahwa memiliki anak terkadang bukan menjadi prioritas utama mereka setelah menikah. Namun, apa benar bahwa kesibukan menjadi alasan utama seseorang menunda segera memiliki momongan, atau ada alasan-alasan lain yang lebih mendasari? Dari beberapa sumber saya menemukan alasan...

Hindari KDRT dengan menjauhi calon pasangan dengan ciri-ciri berikut

Menikah adalah sebuah langkah awal untuk memasuki gerbang kehidupan yang sesungguhnya. Namun, ada satu hal yang kerap menghantui seseorang ketika memutuskan akan menikah. Bukan ekonomi, bukan pula kesehatan, tetapi bagaimana mengetahui karakter calon pasangan yang sesungguhnya. Adalah lebih mudah mengukur dalamnya lautan, ketimbang mengetahui isi hati seseorang. Berbicara mengenai KDRT, ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KNAKTP), Azriana, seperti di lansir oleh CNN Indonesia mengatakan, "Dalam catatan tahunan komnas Perempuan, terungkap angka kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015 jumlahnya meningkat 9 persen dari tahun 2014. Angka tersebut merupakan jumlah kasus yang dilaporkan, sedangkan yang tidak dilaporkan diduga lebih tinggi. Jumlah kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus yang sebagian besar bersumber dari data atau perkara yang pernah ditangani oleh Pengadilan Agama." Pada kesempatan yang lain, dr. Robert Hale d...