Langsung ke konten utama

Bagaimana Menerima Kekurangan Ibu Mertua

  • Beberapa hari lalu saya berbicara dengan saudara lelaki saya yang baru menikah dan kami berbicara tentang ibu mertua. Sesudah melakukan perjalanan jauh bersama ibu mertuanya saudara saya itu menyadari bahwa ibu istrinya itu tidak seperti apa yang dia duga. Ucapannya mengenai ibu mertuanya sangatlah tepat, "Dia agak beda dengan ibu kita sendiri."
  • Dia benar, kita salah bila menganggap ibu mertua kita menyebalkan dan ibu kita sempurna. Mereka berbeda, itu saja. Jadi bagaimana kita harus menghadapi perbedaan itu. Berikut ini adalah beberapa masalah yang saya alami dengan ibu mertua saya sendiri.
  • Komunikasi

    Watak keluarga kami berbeda jauh. Keluarga saya bagaikan buku yang terbuka, gampang dibaca siapa saja. Keluarga mertua saya tidak saja tertutup, tapi juga tersembunyi. Saya pernah menulis surat kepada ibu mertua saya untuk menyatakan perasaan tentang hal-hal yang baik maupun yang buruk. Walau tidak menghasilkan perubahan namun ibu mertua saya selalu menanggapi dengan baik, dan bagi saya sendiri lebih baik begitu daripada memendam kekesalan. Kita mungkin tidak akan berubah namun tidak ada salahnya menjelaskan siapa kita dan mengapa kita melakukan hal-hal yang kita lakukan. Memberi orang sedikit pengertian tentang diri kita akan membuka jalan lapang bagi kita sendiri.
  • Saya harus memanggil apa?

    Saya ingat suatu waktu kami makan bersama dan telepon berdering. Ipar laki-laki saya duduk paling dekat dengan telepon jadi dia mengangkatnya. Telepon itu untuk ibu saya, ipar saya tampak canggung dan tidak berkata apa-apa. Karena ada 20 orang di meja makan, kami tak tahu untuk siapa telepon itu. Akhirnya dengan gagap dia berkata, "Teleponnya untuk mama, Connie..Nyonya Rose..Ibu Rose."
    Kami semua menganggap itu kocak sekali, apalagi ketika ibu saya, dengan raut muka yang kikuk berkata, "Saya bukan ibumu."
    Ini kebalikan dari ibu mertua saya yang ingin sekali dipanggil "mama." Saya merasa kurang nyaman memanggilnya mama, bukan karena dia tidak menakjubkan atau saya kurang mengasihinya, tapi hanya karena saya mempunyai ibu sendiri. Panggilan ini bagi saya bermakna sakral. Bukan sekedar panggilan, melainkan sesuatu yang didapat dengan jerih payah. Ibu saya layak memperolehnya, seperti juga ibu mertua saya layak memperolehnya dari anak-anaknya. Meski banyak keluarga yang ingin menganggap semua orang setara dan tidak ada beda antara keluarga istri atau suami namun perbedaan itu tetap ada. Itulah sebabnya ada istilah "mertua" dan "ipar." Ini kenyataan, bukan kecaman. Tetapi menjadi mertua bukan berarti mereka kurang layak untuk cinta kita. Saya tidak berharap ibu mertua saya mengasihi saya seperti anak perempuannya sendiri. Hal ini tidak melukai perasaan saya, memang seharusnya begitu. Kita bisa saja memiliki hubungan yang erat tanpa memaksakan agar hubungan itu lebih dari yang semestinya.
  • Mungkin tidak akan terjadi perubahan

    Berapa kali kita berselisih dengan orang yang kita kasihi tentang soal yang sama? Ini semua karena kita memiliki kekurangan dan biasanya perselisihan itu berkisar tentang kekurangan kita. Sulit untuk membuat perubahan, lebih mudah untuk menerima kekurangan. Selama bertahun-tahun ada hal-hal yang dilakukan ibu mertua saya yang tidak saya sukai, demikian juga dia pasti merasakan hal yang sama terhadap saya. Saya sadari bahwa semakin saya ingin dia berubah semakin kesal saya jadinya. Saya merasa kurang adil karena saya mengharap ibu mertua saya bertindak seperti ibu saya yang sangat mandiri. Semula saya menganggap ibu mertua saya lemah dan karena itu saya merasa kurang hormat kepadanya. Namun kemudian saya sadar sungguh tidak adil bila saya mengharap dia berlaku mandiri seperti ibu saya.
    Ibu saya membesarkan anak-anaknya supaya menjadi sangat mandiri dan saling bersandar kepada pasangan hidupnya bukan kepada orang tuanya. Sebaliknya ibu mertua saya ingin kami tinggal bersama dia, duduk bersama di sofa sepanjang hari, sering memeluk dan mencium satu sama lain. Hal ini akan saya lanjutkan di bawah.
  • Beri keleluasaan

    Pertama kali saya melihat keluarga suami saya berkumpul, saya memperhatikan bahwa mereka saling memeluk dan mencium, waktu bertemu maupun sebelum berpisah. Saya pikir ada yang meninggal. Kalau tidak mengapa harus saling berpelukan? Tempat tinggal kami cuma terpisah jarak kurang dari satu kilometer, kami sering bertemu. Akhirnya saya jelaskan kepada mertua bahwa walaupun saya orang yang tidak suka memeluk bukan berarti saya tidak sayang kepada mereka. Alasannya cuma karena saya tidak dibesarkan dengan cara begitu. Bagi saya agak aneh untuk memberi pelukan dan ciuman kepada ibu mertua sedangkan saya tidak berbuat itu kepada ibu saya sendiri, yang sangat akrab dengan saya. Saya merasa semua itu semu, namun saya sadar buat dia hal itu tidaklah semu. Begitulah caranya menyatakan kasih sayang dan itu tidak ada salahnya. Juga tidak ada salahnya bila saya kurang nyaman melakukan sesuatu yang bukan kebiasaan saya. Kita cenderung berharap orang lain menanggapi dengan cara yang kita inginkan, bila tidak, kita lalu menganggap ada yang tidak beres.
  • Jangan tersinggung karena soal kecil

    Jika ibu mertua mengajak anak perempuannya pergi belanja atau makan siang, jangan tersinggung. Pikirkan apakah kita akan mengajak dia pergi bersama ibu atau saudara kita. Mungkin tidak. Hanya karena dia ingin pergi bersama anak perempuannya tanpa kita bukan berarti dia membenci kita. Jangan membesar-besarkan soal itu. Begitu juga kalau ibu mertua ingin membuat salah satu foto dengan keluarganya sendiri, jangan tersinggung. Kecuali itu satu-satunya foto yang dia buat. Anak-anak kita memilih untuk menikah dengan pasangannya. Memang bukan kehendak kita, namun jangan mengucilkan mereka dari foto keluarga karena mereka sudah menjadi bagian dari keluarga kita.
  • "Jika tidak bisa mengucapkan hal yang baik..."

    Memang dia memiliki kekurangan, tapi bukan berarti dia boleh semena-mena. Kita juga memiliki kekurangan. Dia sudah menjadi ibu, mungkin sepanjang hidupnya banyak yang mengecam kekurangannya itu, suami, anak-anak atau orang lain. Begitu juga kita. Bila kita sendiri merasa capai dengan kecaman itu, mengapa kita tidak menahan diri untuk tidak mengecamnya. Suatu hari kita juga akan mengalami hal yang sama dengan menantu kita, jadi lapangkanlah hati untuk menerima kekurangannya. Paling tidak, ini akan mempermudah kita melepas anak lelaki kita untuk menikah kelak.
Penulis: Kate Lee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Cara Agar Anak Tidak Terlalu Dekat dengan Pengasuhnya

Sebagai orang tua yang kedua-duanya bekerja, peran pembantu rumah tangga atau babysitter sangatlah diperlukan, karena dengan adanya bantuan dari mereka segala urusan dalam rumah tangga dapat terasa lebih ringan. Namun sesungguhnya orang tua tidak boleh terlena akan hal ini, ada hal yang sebenarnya tidak boleh tergantikan oleh orang lain yaitu pengasuhan pada buah hati Anda. Orang tua boleh saja menyerahkan tugas pengasuhan anaknya kepada orang lain, namun usahakan agar tugas utama pengasuhan kepada anak tersebut tetap Anda miliki, jangan biarkan anak Anda nantinya justru lebih nyaman berada dekat dengan pengasuhnya daripada kepada Anda sendiri sebagai orang tuanya. Lalu apa yang harus Anda lakukan, simaklah tips dengan harapan dapat membantu Anda agar bisa lebih bersemangat meluangkan waktu Anda untuk buah hati Anda. 1. Mempekerjakan pengasuh sementara Anda dan pasangan dapat mempekerjakan seseorang yang dapat Anda percayai untuk menjaga buah hati Anda hanya selama Anda berdua...

8 alasan mengapa seseorang menunda untuk memiliki momongan

Anak adalah pusaka keluarga, seorang anak dalam sebuah keluarga dapat merupakan berkat bagi keluarga tersebut. Namun, ketika ada banyak orang berusaha ingin segera memiliki momongan, beberapa justru menunda dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal. Sebut saja Robi, sahabat saya sejak masih duduk di bangku SMA. Robi dan istri saat ini telah menikah sekitar 3 tahun, tetapi semenjak menikah - hingga sekarang - mereka berusaha menunda memiliki momongan. Tidak sedikit keluarga dan sahabat berusaha mengklarifikasi keputusan mereka tersebut dan lagi-lagi jawaban yang mereka utarakan tetaplah sama, "Nanti!". Di sekitar kita ada banyak orang memiliki pola pikir yang sama dengan sahabat saya Robi, bahwa memiliki anak terkadang bukan menjadi prioritas utama mereka setelah menikah. Namun, apa benar bahwa kesibukan menjadi alasan utama seseorang menunda segera memiliki momongan, atau ada alasan-alasan lain yang lebih mendasari? Dari beberapa sumber saya menemukan alasan...

Hindari KDRT dengan menjauhi calon pasangan dengan ciri-ciri berikut

Menikah adalah sebuah langkah awal untuk memasuki gerbang kehidupan yang sesungguhnya. Namun, ada satu hal yang kerap menghantui seseorang ketika memutuskan akan menikah. Bukan ekonomi, bukan pula kesehatan, tetapi bagaimana mengetahui karakter calon pasangan yang sesungguhnya. Adalah lebih mudah mengukur dalamnya lautan, ketimbang mengetahui isi hati seseorang. Berbicara mengenai KDRT, ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KNAKTP), Azriana, seperti di lansir oleh CNN Indonesia mengatakan, "Dalam catatan tahunan komnas Perempuan, terungkap angka kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015 jumlahnya meningkat 9 persen dari tahun 2014. Angka tersebut merupakan jumlah kasus yang dilaporkan, sedangkan yang tidak dilaporkan diduga lebih tinggi. Jumlah kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus yang sebagian besar bersumber dari data atau perkara yang pernah ditangani oleh Pengadilan Agama." Pada kesempatan yang lain, dr. Robert Hale d...