Langsung ke konten utama

Menemukan Iman Sekali Lagi: Mengetahui Bahwa Tuhan Itu Ada

  • Bayangkan Anda berada di dalam sebuah pusat perbelanjaan yang ramai. Ada beberapa orang berbicara keras kepada hp mereka dan beberapa sedang saling berdebat. Ada beberapa anak kecil saling berkejaran satu sama lain dan orang-orang tua tersandung karena mereka. Petugas keamanan pusat perbelanjaan sedang mengejar seorang pencuri melewati koridor yang ramai. Ada musik nyaring ke luar melalui sistem interkom. Anda tidak bisa mendengar diri Anda berpikir. Yang sebenarnya adalah, Anda bisa meninggalkannya kapan saja, tapi Anda memilih untuk tetap tinggal karena Anda “normal.” Ini adalah dimana Anda merasa paling nyaman karena keluar dari hiruk-pikuk kekacauan Anda sendiri dan membantu Anda untuk melarikan diri.
    Sekarang, bayangkan bahwa sahabat Anda sedang mencoba untuk mendapatkan pesan penting untuk Anda dengan berdiri di sudut lain dari pusat perbelanjaan tersebut dan sambil berbisik-bisik. Tidak ada cara yang mungkin agar Anda bisa mendengarnya. Tetapi ini adalah sebuah pesan yang perlu untuk dilaksanakan. Ini adalah sebuah pesan yang bisa menyelamatkan kehidupan Anda.
    Sekarang Anda mendapatkan sebuah perasaan bahwa ada seseorang yang sedang berusaha untuk menjangkau Anda. Ada beberapa perasaan yang sangat mendesak yang Anda perlu untuk mendengar pesan penting ini, Tapi, bagaimana? Kita semua ada kalanya memilih untuk melibatkan diri kita ke dalam hal-hal berikut yang pada kenyataannya "menghambat" kita:
    Menyaksikan reality show yang menyinggung atau sinetron,menjadi terlibat dalam 'drama' teman, menciptakan 'drama' kita sendiri, mengenakan headphone dan mengeraskan volume dan banyak lainnya.
    Kesemuanya ini bisa menciptakan kegaduhan yang menghilangkan ketenangan, suara kecil dari Tuhan di dalam kehidupan kita. Sewaktu perilaku tersebut berlanjut, suara tersebut akan menjadi lebih lembut dan lebih lembut sampai akhirnya pergi dan setelah itu hilang, sementara kita dibiarkan tanpa petunjuk dan peringatan. Ini merupakan hal yang sangat berbahaya jika terjadi. Dunia menjadi gelap dan kita menjadi penuh keraguan tentang hal-hal yang pernah kita pegang teguh.
  • Jadi, bagaimana Anda kembali?

  • 1. Matikan suara ribut itu

    Apa pun cara Anda untuk mengabaikannya, hentikanlah. Carilah tempat yang tenang. Jika Anda seorang ibu muda, saya tahu ini adalah tantangan. Tapi, cobalah mencari tempat yang tenang dimana pun, kapan pun.
  • 2. Anggap sebagai posisi kerendahan hati

    Tundukkan kepala Anda, silangkan tangan Anda, berlutut, apa pun yang diperlukan untuk menempatkan diri Anda dalam kekhidmatan dan menerima. Ini juga mungkin menjadi sangat sulit untuk dilakukan, karena, jika Anda seperti saya, Anda mungkin akan beranggapan bahwa segala sesuatunya telah diatur.
  • 3. Menutup mata Anda

    Matikan lampu, tutup mata Anda, dan tetaplah demikian.
  • 4. Bertobat karena tidak mendengarkan

    Ini mungkin adalah rintang tersulit bagi semua orang. Juga bagi saya. Saya selalu berpikir, mengapa saya harus meminta maaf karena telah menjadi korban karena suatu keadaan. Saya akhirnya tertangkap pada sebuah kenyataan bahwa ini adalah karena kekerasan hati saya yang membuat saya tidak bisa disentuh dan oleh karena itu saya harus bertobat.
  • 5. Jangan berpikir mengenai apa pun

    Coba untuk menghapus semua pikiran Anda, keraguan-keraguan, ketakutan dan segala hal dari pikiran Anda. Bayangkan sebuah papan tulis yang kosong dan biarkan roh menulis di atasnya hal-hal yang perlu Anda dengar dan lakukan.
  • 6. Tetaplah tenang

    Setelah Anda menerima sebuah pesan, dan ini mungkin memerlukan banyak usaha untuk benar-benar mendapatkannya, tetaplah tenang dan biarkan pikiran Anda membayangkan solusinya. Berdoalah untuk menerima penegasan akan pikiran-pikiran Anda.
  • 7. Bertindak

    Jangan berpikir untuk melakukan sesuatu hal ketika tidak sibuk. Jangan membayangkan bahwa suatu hari nanti hal-hal akan mulai menjadi baik. Bertindaklah pada apa yang Anda telah terima dan ambilah langkah berikutnya.
    Proses ini adalah langkah awal untuk memperoleh kembali iman Anda. Ini sangat menyakitkan bagi saya ketika mengalami proses ini. Saya merasa bahwa saya telah jatuh ke dalam celah-celah dan sepenuhnya ke luar dari jalan Allah. Saya harus bertobat dari gagasan tersebut dan merangkak dan berjuang kembali. Anda juga pasti bisa.
    Diterjemahkan dan diadaptasi oleh Agung Candra Setiawan dari artikel asli “Finding faith again: Know that there is a God” karya Rebecca Rickman.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Cara Agar Anak Tidak Terlalu Dekat dengan Pengasuhnya

Sebagai orang tua yang kedua-duanya bekerja, peran pembantu rumah tangga atau babysitter sangatlah diperlukan, karena dengan adanya bantuan dari mereka segala urusan dalam rumah tangga dapat terasa lebih ringan. Namun sesungguhnya orang tua tidak boleh terlena akan hal ini, ada hal yang sebenarnya tidak boleh tergantikan oleh orang lain yaitu pengasuhan pada buah hati Anda. Orang tua boleh saja menyerahkan tugas pengasuhan anaknya kepada orang lain, namun usahakan agar tugas utama pengasuhan kepada anak tersebut tetap Anda miliki, jangan biarkan anak Anda nantinya justru lebih nyaman berada dekat dengan pengasuhnya daripada kepada Anda sendiri sebagai orang tuanya. Lalu apa yang harus Anda lakukan, simaklah tips dengan harapan dapat membantu Anda agar bisa lebih bersemangat meluangkan waktu Anda untuk buah hati Anda. 1. Mempekerjakan pengasuh sementara Anda dan pasangan dapat mempekerjakan seseorang yang dapat Anda percayai untuk menjaga buah hati Anda hanya selama Anda berdua...

8 alasan mengapa seseorang menunda untuk memiliki momongan

Anak adalah pusaka keluarga, seorang anak dalam sebuah keluarga dapat merupakan berkat bagi keluarga tersebut. Namun, ketika ada banyak orang berusaha ingin segera memiliki momongan, beberapa justru menunda dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal. Sebut saja Robi, sahabat saya sejak masih duduk di bangku SMA. Robi dan istri saat ini telah menikah sekitar 3 tahun, tetapi semenjak menikah - hingga sekarang - mereka berusaha menunda memiliki momongan. Tidak sedikit keluarga dan sahabat berusaha mengklarifikasi keputusan mereka tersebut dan lagi-lagi jawaban yang mereka utarakan tetaplah sama, "Nanti!". Di sekitar kita ada banyak orang memiliki pola pikir yang sama dengan sahabat saya Robi, bahwa memiliki anak terkadang bukan menjadi prioritas utama mereka setelah menikah. Namun, apa benar bahwa kesibukan menjadi alasan utama seseorang menunda segera memiliki momongan, atau ada alasan-alasan lain yang lebih mendasari? Dari beberapa sumber saya menemukan alasan...

Hindari KDRT dengan menjauhi calon pasangan dengan ciri-ciri berikut

Menikah adalah sebuah langkah awal untuk memasuki gerbang kehidupan yang sesungguhnya. Namun, ada satu hal yang kerap menghantui seseorang ketika memutuskan akan menikah. Bukan ekonomi, bukan pula kesehatan, tetapi bagaimana mengetahui karakter calon pasangan yang sesungguhnya. Adalah lebih mudah mengukur dalamnya lautan, ketimbang mengetahui isi hati seseorang. Berbicara mengenai KDRT, ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KNAKTP), Azriana, seperti di lansir oleh CNN Indonesia mengatakan, "Dalam catatan tahunan komnas Perempuan, terungkap angka kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015 jumlahnya meningkat 9 persen dari tahun 2014. Angka tersebut merupakan jumlah kasus yang dilaporkan, sedangkan yang tidak dilaporkan diduga lebih tinggi. Jumlah kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus yang sebagian besar bersumber dari data atau perkara yang pernah ditangani oleh Pengadilan Agama." Pada kesempatan yang lain, dr. Robert Hale d...