Langsung ke konten utama

Waspadai persalinan dengan metode 'forceps'. Seberapa berbahayakah itu?

  • Proses persalinan adalah pertaruhan hidup dan mati antara ibu dan bayi. Itulah yang membuat momen persalinan menjadi saat-saat paling genting.
  • Sedikitnya ada 5 metode persalinantelah dikenal dewasa ini. Masing-masing metode dikembangkan untuk membantu mengatasi berbagai macam kendala selama proses persalinan. Salah satunya adalah metode persalinan dengan bantuan forceps.Apakah itu?
  • Metode persalinan forceps

  • Ketika melahirkan secara normal, dokter atau bidan seringkali dihadapkan pada kondisi membantu persalinan menggunakan alat bantu yang disebut forcepsForceps memiliki bentuk seperti penjapit yang dibuat dari bahan logam dengan beberapa jenis.
  • Prinsip kerja forceps adalah untuk membantu ibu mengeluarkan bayinya dengan cara menjepit kepala bayi dan kemudian menariknya keluar.
  • Risiko metode persalinan forceps

  • Seperti diberitakan laman ABC News, "Seorang ibu di Amerika, Rachel Melancon, berduka selang tidak berapa lama setelah melahirkan bayinya. Petaka tersebut berawal ketika Rachel mengalami kesulitan saat mengejan dan akhirnya kelelahan.
  • Ironisnya, dokter yang membantu proses persalinan waktu itu, dr.George Backardjiev melakukan kesalahan. Backardjiev mengaku sewaktu akan dilahirkan letak bayi Rachel tidak sesuai pada tempatnya. Ia kemudian berusaha membetulkan posisi bayi tersebut dengan tangannya. Namun, cara ini ternyata tidak membuahkan hasil. Ia akhirnya memutuskan menarik bayi tersebut keluar dengan menggunakan forceps.
  • Selama proses persalinan Rachel mengaku "Saya merasa bayi saya ditarik paksa keluar. Lalu tiba-tiba terdengar suara "krek" seperti ada sesuatu di dalam tubuh saya yang retak. Setelah itu dokter buru-buru menjahit saya dengan kondisi bayi masih berada di jalan lahir dan kemudian memutuskan untuk segera melakukan operasi cesar darurat. Setelah bayi saya berhasil keluar, seketika itu juga ruangan menjadi sepi—sangat sepi. Tidak terdengar sedikitpun ada suara tangisan bayi. Dokter dan beberapa stafnya kemudian meminta suami saya keluar dan setelah itu saya tidak mampu mengingat apa-apa lagi."
  • Rachel mengatakan "Bayi saya meninggal dengan kondisi tempurung kepala retak dan sumsum tulang belakang rusak. Ia hanya mampu bertahan selama 5 hari setelah alat penopang kehidupannya dicabut."
  • Amankah metode persalinan forceps?

  • Selama ini melahirkan dengan metode forceps dapat menjadi salah satu cara untuk membantu proses persalinan. Selama dilakukan oleh orang yang ahli dalam bidangnya dan sesuai dengan prosedur, persalinan forceps sebenarnya bisa dibilang cukup aman.
  • Namun demikian, pengunaan metode forceps saat ini sudah mulai jarang dilakukan oleh petugas medis untuk membantu proses persalinan. Ada beberapa alasan yang mendasari, di antaranya:
  • 1. Berisiko menyebabkan rasa nyeri hebat pada daerah anus dan vagina pascapersalinan.

  • 2. Berisiko menyebabkan infeksi pada saluran kelamin bagian bawah.

  • 3. Berisiko melukai bayi, hingga menyebabkan kematian.

  • 4. Secara psikologis berisiko menciptakan rasa trauma dan ketakutan pada ibu ketika memutuskan untuk hamil lagi.

  • 5. Berisiko menyebabkan hilangnya kemampuan untuk mengendalikan otot kantung kandung kemih.

  • Berhati-hati ketika akan menggunakan metode persalinan forceps

  • Menarik paksa bayi keluar pada saat proses persalinan menggunakan alat bukanlah sesuatu yang alami dilakukan. Oleh sebab itu, jauh-jauh hari sebelum proses persalinan dimulai ibu perlu memeriksakan kondisi kesehatan tubuh serta janinnya sesering mungkin. Diskusikan setiap keluhan yang dirasakan dengan petugas medis yang akan membantu menangani proses persalinan. Kedekatan hubungan yang terjalin antara ibu dan para petugas medis, membuat mereka memahami metode apa yang sebaiknya digunakan pada saat persalinan nantinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Cara Agar Anak Tidak Terlalu Dekat dengan Pengasuhnya

Sebagai orang tua yang kedua-duanya bekerja, peran pembantu rumah tangga atau babysitter sangatlah diperlukan, karena dengan adanya bantuan dari mereka segala urusan dalam rumah tangga dapat terasa lebih ringan. Namun sesungguhnya orang tua tidak boleh terlena akan hal ini, ada hal yang sebenarnya tidak boleh tergantikan oleh orang lain yaitu pengasuhan pada buah hati Anda. Orang tua boleh saja menyerahkan tugas pengasuhan anaknya kepada orang lain, namun usahakan agar tugas utama pengasuhan kepada anak tersebut tetap Anda miliki, jangan biarkan anak Anda nantinya justru lebih nyaman berada dekat dengan pengasuhnya daripada kepada Anda sendiri sebagai orang tuanya. Lalu apa yang harus Anda lakukan, simaklah tips dengan harapan dapat membantu Anda agar bisa lebih bersemangat meluangkan waktu Anda untuk buah hati Anda. 1. Mempekerjakan pengasuh sementara Anda dan pasangan dapat mempekerjakan seseorang yang dapat Anda percayai untuk menjaga buah hati Anda hanya selama Anda berdua...

8 alasan mengapa seseorang menunda untuk memiliki momongan

Anak adalah pusaka keluarga, seorang anak dalam sebuah keluarga dapat merupakan berkat bagi keluarga tersebut. Namun, ketika ada banyak orang berusaha ingin segera memiliki momongan, beberapa justru menunda dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal. Sebut saja Robi, sahabat saya sejak masih duduk di bangku SMA. Robi dan istri saat ini telah menikah sekitar 3 tahun, tetapi semenjak menikah - hingga sekarang - mereka berusaha menunda memiliki momongan. Tidak sedikit keluarga dan sahabat berusaha mengklarifikasi keputusan mereka tersebut dan lagi-lagi jawaban yang mereka utarakan tetaplah sama, "Nanti!". Di sekitar kita ada banyak orang memiliki pola pikir yang sama dengan sahabat saya Robi, bahwa memiliki anak terkadang bukan menjadi prioritas utama mereka setelah menikah. Namun, apa benar bahwa kesibukan menjadi alasan utama seseorang menunda segera memiliki momongan, atau ada alasan-alasan lain yang lebih mendasari? Dari beberapa sumber saya menemukan alasan...

Hindari KDRT dengan menjauhi calon pasangan dengan ciri-ciri berikut

Menikah adalah sebuah langkah awal untuk memasuki gerbang kehidupan yang sesungguhnya. Namun, ada satu hal yang kerap menghantui seseorang ketika memutuskan akan menikah. Bukan ekonomi, bukan pula kesehatan, tetapi bagaimana mengetahui karakter calon pasangan yang sesungguhnya. Adalah lebih mudah mengukur dalamnya lautan, ketimbang mengetahui isi hati seseorang. Berbicara mengenai KDRT, ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KNAKTP), Azriana, seperti di lansir oleh CNN Indonesia mengatakan, "Dalam catatan tahunan komnas Perempuan, terungkap angka kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015 jumlahnya meningkat 9 persen dari tahun 2014. Angka tersebut merupakan jumlah kasus yang dilaporkan, sedangkan yang tidak dilaporkan diduga lebih tinggi. Jumlah kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus yang sebagian besar bersumber dari data atau perkara yang pernah ditangani oleh Pengadilan Agama." Pada kesempatan yang lain, dr. Robert Hale d...